Thursday, June 19, 2014

Because enough is never enough

Pernah denger kan pepatah tangan kanan memberi sebaiknya tangan kiri tidak perlu tau?

Masalahnya, seberapa banyak sih tangan kanan kita sudah memberi? Apa sudah cukup?

Kalau hitungan cukup atau tidak sih emang 100% Tuhan yang bisa nilai. Tapi diri sendiri seharusnya kan juga punya ukuran cukup atau tidak yang cuma diri kita yang tahu.

Katanya sih yang namanya memberi itu gak akan ada habisnya dan gak pernah cukup. Saya setuju sekali. 

Tapi coba deh kalau lagi mau fair menilai diri sendiri, pada kenyataannya sudah maksimal belum sih si tangan kanan kita ini memberi?

Saya pernah suatu waktu diminta tolong teman mendoakan dia untuk suatu hal yang lagi mau dia lakukan. Doakan ya supaya lancar. Doakan ya supaya tidak ada halangan. Doakan ya supaya hasilnya baik. Apa saat itu saya langsung mendoakan? Kenyataannya sih enggak. 

Memang niatnya mau mendoakan. Beneran deh. Tapi tiba-tiba ada satu dan lain hal kepentingan diri sendiri yang harus didahulukan daripada mendoakan si teman. Nanti deh habis ini. Nanti habis itu. Nanti deh sekalian pas lagi ini. Nanti deh nanti..

Gak berapa lama si teman mengabari kalau hal yang sudah dia lakukan berhasil. Dapat hasil yang baik. Dan berterimakasih atas doa saya.

Saat itu seperti mau nampar diri sendiri dan benturin kepala ke meja. Kan sebenarnya saya gak patut dapat terimakasih itu. Wong saya belum doain sama sekali kok, baru sekedar niat.

Terus pernah keingetan gak hal nyata apa yang pernah dilakuin untuk membantu teman? Hal nyata loh ya. 

Memberi kuping untuk mendengar keluh kesah sih memang baik. Memberi bahu dan tisu sebagai fasilitas teman yang sedang menangis juga baik. Tapi menurut saya, 2 hal itu sebagai penyaluran saja atas masalah si teman.

Tapi memberi solusi nyata atas masalahnya, sudah seberapa banyak sih kita melakukannya? Lebih banyak mana antara memberi penyaluran dan memberi solusi? 

Ya tulisan ini saya buat sebenar-benarnya untuk self reminder saja. Alhamdulillah kalau ada yang jadi terinspirasi juga.

Sudah di usia segini, sudah berapa banyak sih hal baik yang real yang sdah saya lakukan. Apalagi sebentar lagi saya mau jadi ibu. Mau mengajarkan apa ya saya buat si anak nanti supaya hidupnya lebih berguna dari saya. Wong bekal saya kayaknya belum cukup juga. Dan sejuta keegoisan lain yang masih ada di diri sendiri dan susah hilang.

But life is a never-ending lesson katanya. Dan yang namanya memberi itu gak akan pernah ada habisnya dan gak pernah bikin kita miskin juga katanya.

Mudah-mudahan sebelum Allah 'memanggil' saya suatu hari nanti, sudah ada hal nyata yang besar menurut ukuran pribadi saya yang sudah saya lakukan untuk kebaikan orang banyak. Tanpa masih mengkhawatirkan kepentingan sendiri lagi. Amin.

~Tulisan ini terinspirasi sehabis nonton film 'Cahaya dari Timur'. This is a good inspirational movie I've ever seen. Sejuta jempol untuk sutradara dan semua yang terlibat.

Wednesday, November 20, 2013

What Do They Do?

Beberapa waktu belakangan ini saya sempat berpikir, saya sudah menulis beberapa hal di dalam hidup. Tapi kenapa ya belum pernah menuliskan tentang profesi dimana saya 'nyemplung' selama hampir 5 tahun ini.

Meskipun pastinya di luar sana banyak yang lebih berpengalaman dari saya, jadi saya cuma mau membantu kalian yang baca membuka mata sedikit melalui tulisan saya ini.

Tanpa disadari dari sejak lulus kuliah sampai sekarang ini entah kenapa pekerjaan yang saya apply dan saya diterima itu seputar sales & marketing. Scopenya? Ya dari pengalaman 5 tahun ini sih banyak banget. Dari mulai sales & marketing planning, mencari strategi market, direct selling, market research, market analysis, sampe bikin report plus analisanya. Sampai sekarang ini dimana saya lagi berjuang di Digital Marketing.

Kenapa sampai 5 tahun? Ya itu tadi saya bilang, saya sendiri gak tau kenapa. Padahal kalau apply juga beraneka macam. Tapi entah kenapa diterimanya selalu seputar bidang itu yang menjadikan saya termasuk dalam anak teknik yang kerjanya gak sesuai bidang.

Tapi apa saya menyesal? Syukurnya sih enggak. Karena pada dasarnya, menurut saya bidang sales & marketing itu adalah 'the never ending challenge'.

Ketemu klien? Itu scope kami. Klien complain? Juga masih beban kami. Produksi tidak lancar? Ya berpengaruh ke jualan juga sih, makanya masih scope kami juga. Pembayaran dari klien gak lancar? Kita juga yang harus bantu kejar kliennya. Kompetitor tiba-tiba bikin movement yang gak disangka-sangka? Kami juga yang harus pintar-pintar jadi 'penyusup' dan cari tahu banyak hal. Ngurusin human resources gak? Iya sih kalau sudah punya team sendiri. Lalu report jualan bulanan jelek? Wah disinilah sekuat tenaga putar otak cari alesan kenapa (dari mulai alesan yang memang bener sampai alesan yang mengada-ada, asal pihak lain tenang dan senang) dan termasuk juga memplanning strategi baru.

Lalu dimana tantangannya? Menurut saya, yang paling menantang adalah karena yang kami hadapi sebagian besar adalah sesama manusia. Sama-sama makhluk Tuhan yang diberi otak dan hati juga. Yang kadang lebih dominan pakai otak, kadang lebih dominan pakai hati dan emosi, dan bahkan kadang gak pakai keduanya.

Dan itu menurut saya adalah pembelajaran yang gak pernah habis. Ya karena setiap hari yang berbeda dengan klien yang berbeda dan situasi berbeda, kita gak akan pernah menemukan hal yang sama persis di dunia ini. Dan bahkan kadang berbedanya sungguh drastis dari hari ke hari. Bisa aja hari ini kita yang happy. Bisa juga besoknya kita yang jungkir balik bikin klien happy. Dan lucunya, apapun yang terjadi hari ini, usahakan besok sudah disingkirkan semua yang buruk-buruk dan mulai lagi pake senyum. Dimana itu adalah bagian paling susah kalo menurut saya.

Tapi justru disitu kita bisa belajar banyak dari orang-orang di sekitar. Dan biasanya sih, pelajarannya lebih 'nyantol' di otak karena praktek langsung dari lapangan.

Ya apapun itu, balik lagi, saya sendiri sampai sekarang masih belum tahu kenapa 5 tahun ini saya 'nyemplung' di bidang ini. Tapi anggap saja memang sudah jalan dari Tuhan. Dan setiap yang diberikan oleh Tuhan sudah sepatutnya disyukuri dan dijalani sebaik-baiknya. Selamat pagi! :)

~Tulisan ini terinspirasi dari seorang klien yang selalu mau dibikin happy. Matur nuwun sanget. Mugi Gusti Allah ingkang mbales.


Thursday, April 25, 2013

Hello Goodbye


Jadi, menikah itu rasanya lega. Titik.

Kalau saya sih, merasanya, setelah melewati segala rangkaian acara pernikahan mulai dari pengajian, upacara adat, akad nikah, sampai resepsi, itu apa ya, semacam rangkaian ungkapan syukur kepada Tuhan yang gak habis-habis.
Tapi yang jelas, ada beberapa hal di rangkaian menjelang acara ini yang saya rasa, Tuhan sengaja menunjukkan ke saya untuk pembelajaran. Dan itu yang mau saya share di blog ini.

Bahwa :

Just follow your heart. Dulu di awal saya juga banyak tanya kiri kanan gimana persiapan orang-orang, terus banyak searching dari internet tentang vendor ini itu, tentang konsep ini itu. Tapi pada akhirnya, yang sreg di hati aja yang saya pilih. Orang lain boleh banget kasih masukan, terima-terima aja, tapi kalau gak sesuai, ya jangan diikutin. Karena at the end, rasanya tuh beda antara menjalankan sesuatu berdasarkan pilihan orang dan pilihan hati sendiri.

Dulu juga, waktu di awal, saya dan sahabat saya yang juga mau menikah di tahun yang sama sempet bimbang, apakah mau pakai jasa wedding organizer (WO) atau tidak. Bukan apa-apa, manusiawi banget  kalau di saat sudah mentok dan capek dan pusing sedangkan banyak banget yang masih harus dilakuin, kita jadi kepengen banget rasanya ambil jalan pintas. Tapi kok ya setelah disurvei kiri kanan, konsep WO kebanyakan itu gak sesuai kayak yang kita mau. Jadi seolah-olah itu acaranya si WO bukan acara kita. Kalaupun total mau ikut konsep kita, tetep kepentok budget tinggi dimana gak masuk akal banget dan ya mau gak mau akhirnya balik lagi, harus ikut rule-nya si WO. Dan akhirnya sekarang setelah saya ngerasain dan sudah jalanin semuanya all by ourselves, lagi-lagi, puasnya tak terkira.

TAPI, bukan berarti saya gak setuju ya sama konsep WO dan orang-orang yang pilih pake WO dalam mempersiapkan acaranya. Mungkin kalau kondisi keuangan saya berlebih dan waktu saya yang terbatas, saya juga akan pakai WO kok. Ya, ini sih balik lagi, karena kondisi aja yang gak memungkinkan. *dibaca:irit*

Saya baru mengerti sekarang konsep pawang hujan. Ya, karena acara resepsi saya adalah di outdoor, was-wasnya jadi dobel-dobel. Apalagi, sampai sehari sebelum acara itu, Jakarta non-stop hujan bahkan sampai banjir di beberapa tempat. Kalau Berry sih sampai H-1 masih yakin acara akan berjalan lancar tanpa turun hujan. Kalau mama, ya gak usah ditanya lah ya, paniknya triple dari paniknya saya. Kalau vendor-vendor, dari mulai komen “Gak lah mbak, kan kita sudah sama-sama doa, mudah-mudahan hujannya gak turun dan acara lancar.”, sampai di H-1 komen doi berubah jadi “yaudah mbak, anggep aja kalau memang turun hujan itu berkah dari Allah” (sambil tertunduk lemas). Dan saya sebagai yang gampang banget ditularin panik, paniklah langsung. Akhirnya Berry memutuskan untuk memakai pawang hujan.

Lalu bagaimana acara saya? Alhamdulillah lancar selancar-lancarnya tanpa hujan. Pagi hari sebelum akad memang sempat gerimis kecil. Tapi dari mulai akad sampai malam saat resepsi, aman tanpa hujan, plus angin dingin, plus banyak bintang.

Dan setelah selesai acara saya ngobrol-ngobrol sama Berry, saya jadi sadar, bagaimanapun yang terjadi itu kuasa Tuhan bukan kuasa pawang hujan. Kapanpun Tuhan mau hujan turun, mau pakai pawang secanggih apapun dan sebanyak berapapun, ya pasti akan turun juga hujannya. Dan kalau acara saya kemarin sampai lancar dan cuaca mendukung itu ya berkat doa saya, doa Berry, doa orang tua dan doa orang-orang sekitar yang sayang sama kami berdua.

Lalu dimana esensi pawang hujannya? Pawang hujannya menurut saya itu bagian dari rencana Tuhan. Dikirimkan Tuhan untuk menenangkan hati saya dan mama. Coba bayangin gimana kalau saya gak pake pawang kemarin? Pasti saya juga gak tenang, panik berlebihan, stres dan malah bisa membuat rusak suasana. Dan mungkin juga doa si pawang ikut melengkapi rangkaian doa dari kami semua. Jadi, si pawang juga sama besar jasanya di acara saya kemarin.

Lalu, godaan dari mantan terjadi untuk beberapa orang termasuk saya. Godaan disini bukan dalam arti godaan iman untuk balik lagi ke mantan dan membatalkan rencana pernikahan ya. Percayalah, hal-hal kayak gitu itu cuma terjadi di sinetron-sinetron dan bukan di kehidupan nyata. Maksud saya godaan mantan itu adalah entah kenapa setiap saya mau hidup tenang tanpa diusik-usik, selalu saja muncul lagi, muncul lagi dan muncul lagi. Bukan apa-apa, saya itu termasuk orang yang males banget direcokkin sama urusan masa lalu, apalagi kalo masa lalunya gak nyenengin.

Lalu untuk menghadapi orang-orang seperti itu, untuk saya, sama halnya seperti kita menghadapi bangkai tikus. Gali tanah, masukkan bangkai, tutup kembali tanahnya, beli bunga, tabur bunga di kuburan tikus itu sambil berdoa semoga arwahnya tenang di alam lain. Amin.

Tuhan memang mengirimkan kita banyak orang di sekeliling kita, that’s what we called them friends. Tapi, yang dekat di hati boleh kita pilih-pilih kok. Dari mulai persiapan sampai acara, saya seperti makin dipermudah jalannya untuk memilih, makin diperlihatkan mana yang memang benar-benar layak tinggal di hati, mana yang lebih baik cuma sebatas senyum dan basa-basi basi saja. Pilihlah teman-teman yang mendukung di segala hal. Misalnya teman yang : selalu ada untuk kita dengan tulus, tidak mendominasi, tidak self-centered, tidak menambah emosi.

Ya kalau ada yang bertemu orang-orang seperti ini, senyumin saja, pelan-pelan menjauh, dan some things are better left unfinished kok.

Sejauh ini saya merasa sudah memilih partner hidup yang tepat. Kenapa? Kalau kata orang-orang, persiapan pernikahan itu ujian hubungan banget, terus semakin terbukalah semua sifat buruk pasangan, terus bakal banyak ribut sama pasangan, alhamdulillah saya enggak. Bukan berarti gak ada masalah loh ya. Ada lah pasti, tapi masalah-masalah itu timbulnya bukan dari saya atau pasangan, dan kami menghadapinya dengan baik (in my opinion) tanpa ribut, tanpa diem-dieman. At the end, saya merasanya kalau saya dan Berry itu satu team yang hebat. We did it all great in so many ways. 

Sebagai wanita, menghadapi mama yang juga wanita, itu sama menyiksanya dengan menghafal rumus fungsi  kimia. Apalagi yang dipakai itu sama-sama hati. Pastilah banyak sekali drama yang terjadi. Jujur aja, saya sendiri sih sampai lupa apa-apa aja yang bikin kita berantem, debat, nangis-nangisan, tapi yang jelas at the end melihat mama yang seneng itu rasanya melebihi seneng yang kita sendiri rasain dan menambah rangkaian ungkapan syukur sama Tuhan.

Prinsip saya dan Berry dari awal adalah nothing is perfect. Termasuk menjalankan acara sebesar ini berdua dan menjalankan “langkah baru” di depan mata berdua. 

Dan mencoba untuk memenuhi keinginan SEMUA orang itu adalah TIDAK MUNGKIN. Dan kalau ada yang bilang, “mumpung bisa, ya lakukan saja yang paling baik, menyenangkan hati orang-orang”, itu bener banget kok, tapi batasan yang paling baik itu yang seperti apa? Kalau buat saya dan Berry, lakukan semua hal yang paling baik menurut batasan diri kita, jangan sampai melebihi batas kemampuan diri sendiri. And it works!

Dan dari semua hal, sampai detik ini, saya bersyukur gak putus-putus. Juga berterimakasih yang tak terhingga untuk semua orang yang sudah membantu saya dan Berry, orangtua, keluarga, sahabat-sahabat, vendor-vendor, dan semua orang lain yang tak terduga kehadirannya. Matur nuwun sanget, mugi Gusti Allah ingkang mbales. :)












Tuesday, February 19, 2013

Tuesday, January 8, 2013

This Very Moment

Bagi mereka yang sudah pernah merasakan momen seperti ini, pasti sependapat bahwa ini rasanya lebih banyak dari rasa di permen nano-nano.

Ada manis, asam, asin, pahit, pedas, dan rasa-rasa yang lain.

Bahkan ini sebenarnya mau sharing disinipun saya ragu-ragu. Selain karena kata orang-orang 'pamali' untuk diceritakan sebelum waktunya, tapi juga ini karena saking banyak dan too complicated to tell.

Hehe, makin gak jelas.

Intinya yang mau saya bagi adalah, percayalah, setiap momen yang terjadi di hidup itu tidak ada yang kebetulan diberikan oleh Tuhan. Setiap manusia punya alur ceritanya masing-masing.

Dan setiap momen sama berharganya.

Jadi kalau kita ada di suatu masa yang tidak menyenangkan, lalu mengeluh dan ingin membuang masa tersebut dari ingatan, ketika kita sudah sampai di titik yang saya sedang alami sekarang, pasti cuma akan tersenyum dan menyesal sudah mengeluh.

Karena semua momen ternyata sama berharganya. Entah itu baik, buruk. Jika kita sudah melihat dari sisi yang lain, di masa yang lain, kesulitan itu menjadi bukan apa-apa lagi. Tidak ada nilainya.

Kalau dari sisi saya sih, jadi lebih sayang kepada orang-orang sekitar, lebih mengerti makna berbagi, jadi lebih dekat dengan Tuhan karena lebih rajin berdoa, jadi lebih bersyukur. Alhamdulillah hal positif semua. Biarpun kadang ada nangis dan keselnya, tapi pada ujungnya akan kembali positif.

Dan meskipun rancu untuk yang membaca, tapi saya bersyukur bisa mengungkapkan rasa ini di momen yang sedang saya rasakan sekarang, melalui tulisan ini.

At this very moment.

Sunday, December 30, 2012

Some Things Are Better Left Written

Saya suka menulis. Dan menurut saya, ada beberapa hal, yang lebih baik disampaikan lewat tulisan ketimbang berbicara. Lebih tercapai tujuannya.

Beberapa masalah dengan sahabat, pacar, keluarga, bahkan mantan, saya selesaikan lewat tulisan. And it works for me!

Ya meskipun ada juga beberapa hal yang butuh penyelesaian cepat, akan lebih efektif disampaikan secara langsung.

Tapi untuk hal-hal yang sifatnya personal, menurut saya, lebih mengena di hati jika disampaikan lewat tulisan.

Surat. Ya, meskipun metode komunikasi ini sudah tergeser dengan teknologi yang lain yang lebih maju, saya tetap menganggap menulis surat itu salah satu cara berkomunikasi yang efektif. Terutama ya itu tadi, untuk masalah-masalah yang sifatnya personal.

Saya mulai suka surat menyurat ketika di SMA dulu. Teman-teman saya di Tarki juga pasti familiar sekali dengan bagaimana dulu surat menyurat menjadi cara berkomunikasi yang umum dengan teman satu angkatan, adik kelas maupun kakak kelas dalam satu ekskul yang sama. Suratnya dihias-hias. Bahkan dulu saya punya satu tempat pensil besar yang isinya spidol, stabilo, maupun pensil warna berbagai jenis, khusus untuk menghias surat.

Dari situ saya mulai bereksplorasi dengan tulisan dalam sebuah surat. Saya mulai menyadari, menulis surat itu salah satu cara berani jujur dalam berhubungan. Karena melalui surat saya lebih bebas menuangkan apapun isi hati dan pikiran saya. Ungkapan sayang, senang, bangga, bahkan marah juga bisa disampaikan secara jujur melalui surat dalam cara yang tidak membuat situasi menjadi 'panas'.

Sampai detik ini saya masih suka menulis surat, terutama untuk keluarga, pacar serta sahabat.

Apalagi menjelang pergantian tahun. Bersama beberapa sahabat dekat, bertahun-tahun belakangan ini saya selalu rutin bertukar surat. Isinya? Mulai dari review hal-hal yang terjadi setahun kemarin, uneg-uneg terhadap satu sama lain, resolusi yang ingin dicapai di tahun mendatang, serta ungkapan syukur untuk masih saling memiliki satu sama lain dan hal-hal baik lain yang terjadi di hidup kami.

Lengkap kan? Dalam satu paket tulisan, saya mendapat banyak hal. Dan sampai detik ini pun semua surat ini saya kumpulkan rapi di satu amplop besar. Dan sampai detik ini juga, setiap menerima surat baru atau membaca lagi surat-surat lama yang ada, saya sukses bisa tertawa dan menangis terharu dalam satu waktu.

And hopefully, this good thing will be last forever in my life.


Wednesday, December 19, 2012

Nothing is Coincidence

Have you ever been in a situation that makes you not become yourself? Well said, you pretended to be nice to a person you don't really like so much?

Well, berdasarkan pengalaman saya selama hidup lebih dari seperempat abad ini ya, berlaku itu seporsinya. Merasa juga seporsinya.

Prakteknya? Tentu susah.

Cuma ingat saja satu rule ini. Saat kita berlaku untuk orang lain, pertama kali pikirkan, apa yang terjadi saat kita berada di posisinya, menerima perlakuan dari orang lain yang menyerupai perilaku kita itu. Apa feedback yang akan kita lakukan untuknya?

Kalau jawabannya, biasa saja. Maka berlakulah secara biasa saja. Kalau jawabannya kira-kira mereka akan memberi well appreciation, so act well.

Bagaimana cara meramalkan feedback itu? Mengamati, mengingat, lalu menganalisa. Kalau masih kesulitan, kuliahlah di teknik industri maka anda akan mempelajari mata kuliah forecasting, atau bekerjalah sebagai orang market research, maka anda akan jadi terbiasa menganalisa peilaku. Hehe.

Tapi bagaimana dengan perbuatan baik? Katanya berbuat baik itu kan harus tanpa pamrih. Ya sebaiknya sih begitu. Dengan catatan, kalau bisa. Kalau saya sih, sebagai manusia normal dengan batas kesabaran yang masih ada nilainya, ikuti saja waktu berjalan. Saatnya kita bisa memberikan banyak tanpa harap imbalan perbuatan setimpal, ya berilah. Tapi saat masih penuh ego, ya jangan dipaksakan. Toh sesuatu yang dipaksakan malah bisa berdampak lebih buruk.

Tinggal bagaimana berdoa kepada Tuhan, supaya apapun yang kita lakukan sesuai dengan ridho-Nya.

Dan ini yang saya bicarakan semua hukumnya relatif kok. Kalau ada yang kurang setuju, boleh-boleh saja.

Percaya saja, nothing is coincidence in God's plan. Termasuk pertemuan dengan orang-orang yang tidak kita harapkan tersebut. Suatu saat nanti, kita hanya akan memaklumi dan bergumam "iya juga ya" saat situasi sudah berbeda.

Dan mengutip kalimat indah dari Pidi Baiq : biarkan pikiran terus melangit asalkan hati tetap membumi.

Salam super! :p

Thursday, December 13, 2012

Aku dan Sepatuku

Ide cerita ini datang tiba-tiba saat kerjaan lagi sedikit-sedikitnya, dan memandangi kolong meja melihat kaki dan sepatu.

Menurut saya, kaki dan sepatu wanita itu erat hubungannya dengan hubungan pribadi wanita itu sendiri. Terutama dilihat dari tinggi haknya.

Begini, misalnya sepatu ber-hak rendah, flat shoes, atau sepatu keds. Kalau untuk saya sendiri sih, flat shoes itu sepatu paling nyaman sedunia. Bisa digunakan dalam kondisi apapun, santai, semi-resmi, resmi. Dipakai anak kecil, orang dewasa, ibu hamil, oma-oma, semua aman. Sesuka-sukanya saya dengan sepatu jenis lain, tetap saja akan kembali ke flat shoes.

Tapi meskipun terlihat manis, tetap saja kurang anggun.

Sama seperti hubungan dengan keluarga inti dan sahabat. Meskipun kadang ada berantem-berantem yang membuat hubungan jadi renggang beberapa saat tapi tetap saja kita akan selalu kembali kepada mereka. Keluarga inti dan sahabat itu tempat paling aman kita akan kembali sejauh apapun kita berjalan.

Ada juga sepatu ber-hak sedang. Sepatu ini buat saya kelihatannya memang lebih anggun dari flat shoes. Kenapa? Karena kaki kita dipaksa untuk berjalan lebih anggun dari biasanya. Aman juga dipakai dalam berbagai keadaan.

Menurut saya ini seperti hubungan dengan pacar. Kadang kita dipaksa mengubah sifat kita untuk bisa menyesuaikan diri dengan pacar. Pacar yang baik tentu membawa perubahan yang terlihat baik juga untuk diri kita. Pacar yang baik juga selalu membuat nyaman di segala kondisi.

Ada juga sepatu ber-hak runcing. Sepatu ini membuat wanita terlihat dua kali lebih anggun, tapi siksaan saat menggunakannya juga dua kali lipat lebih besar. Sepatu ini untuk saya cuma cocok di acara resmi. Saya sendiri cuma punya sedikit sekali, sebagai syarat kelengkapan seorang wanita. Bahkan sudah malas menggunakannya bahkan di acara resmi sekalipun.

Ini seperti hubungan dengan mantan pacar. Mantan yang tidak baik tentunya. Dulu waktu masih berhubungan, semua terlihat serba indah dan sempurna. Bahkan sampai rela mengingkari bahwa siksaan batinnya juga luar biasa. Hanya bisa menyambung di kondisi tertentu. Dan kalau bisa sekarang sudah tidak perlu diingat-ingat lagi.

Ada juga sepatu wedges atau sepatu ber-hak tebal. Sepatu ini sih kalau menurut saya mengingkari kodratnya. Mau membuat yang memakai terlihat tinggi dengan kenyamanan seperti menggunakan flat shoes. Dan bentuknya pun lebih banyak yang aneh daripada yang cantik, menurut saya. Kalau menggunakan sepatu ini harus menjaga keseimbangan dengan baik. Karena kalau sampai slip, bisa menyebabkan cedera otot.

Ini seperti hubungan dengan saudara dari keluarga besar. Kodratnya dekat. Bukan dekat sekali atau akrab sekali. Dan meskipun dekat, juga tetap harus hati-hati dalam berhubungan. Namanya juga manusia, bisa saja suatu saat khilaf dan menyakiti. Dan bagi pihak yang disakiti, rasanya luar biasa sakit daripada sekedar disakiti teman atau orang 'luar'. Ya karena ekspetasinya tidak sesuai bayangan. Apalagi masih harus tetap rutin bertemu di acara-acara tertentu. Mangkel kan pasti.

Ya ini semua hanya pendapat saya. Have a good relationship. :)

Friday, December 7, 2012

Semua Ada Di Sini

Ini cerita tentang stasiun kereta. Tempat dimana sekarang ini hari-hari saya dihabiskan di tempat ini.

Semua ada di sini. Mulai dari penumpang kereta kelas ekonomi. Isinya? Pekerja kantoran, pedagang grosir beserta kardus-kardusnya, tukang sayur, tukang ayam beserta ayam-ayamnya.

Ada juga penumpang kereta commuter. Yang isinya pekerja kantoran beraneka jenis. Ada pegawai negeri sekali itu yang seragamnya khas. Ada juga pekerja kreatif yang dandanannya sekreatif gelarnya. Ada juga pekerja kantoran yang baik dan tidak sombong seperti saya. Hehe.

Dan di stasiun pula saya bisa menemukan pedagang-pedagang aneka rupa. Ada yang menjual suaranya. Ada yang menjual keterbatasan fisiknya. Ada yang menjual iba melalui anak (entah siapa) yang digendong-gendong dengan tatapan maut ala puss in boots.

Belum lagi penjual barang-barang yang akan membuat anda sebagai yang pertama kali mempunyai pengalaman baru menjadi sama noraknya dengan saya karena kagum sekali. Barang-barang yang saya maksud misalnya adalah : jas hujan dari kantong kresek yang biasa kita bawa dari pasar saat menenteng sayur. Atau bando telinga kelinci yang bisa nyala ala lampu pohon natal karena ada baterainya.

Dan jangan salah, di stasiun juga banyak anak sekolah. Mulai dari anak yang masih diperhatikan dengan baik oleh orangtuanya, oleh pembantunya, bahkan oleh tukang ojek komplek. Yang ini bisa dilihat dari siapa yang mengantarnya.

Berada di lingkungan beraneka ragam tersebut membuat saya mempunyai cerita setiap harinya untuk dibagi kepada keluarga dan orang-orang di sekitar saya.

Membuat hidup jadi lebih berarti. Lebih bersyukur jika melihat mereka yang keadaannya tidak lebih baik dibandingkan saya. Lebih meningkatkan motivasi jika melihat mereka yang keadaannya lebih baik daripada saya.

Sayangnya hanya satu. Kenapa ya fasilitas transportasi ini tidak didukung lebih baik lagi oleh negara? Padahal di negara maju, transportasi kereta yang dikembangkan dengan baik. Tidak ada lagi stres karena macet di jalan. Kerja jadi lebih produktif karena efisiensi waktu dan tenaga serta pikiran.

Dan terutama, kalau saja transportasi kereta dikembangkan dengan baik, cerita saya akan jadi lebih penuh warna.







Wednesday, October 31, 2012

Hanya Bisa Ditemui Satu Kali Dalam Satu Tahun





Ini video klip lagu "Ode Buat Kota" milik group Indie-Pop "Bangku Taman" asal Yogyakarta. Dibuat di tahun 2010 saat sholat Ied sedang berlangsung serentak di seluruh wilayah Jakarta.

Sudah lama saya suka sekali video klip ini. Tapi baru sempat men-share-nya sekarang. Salah satu yang menarik menurut saya, selain lagu yang enak didengar adalah fakta yang dimuat di running text video tersebut mengenai Jakarta. Datanya diambil dari Japan International Corporation Agency dan The Institute of Transportation and Development Policy (ITDP). 

Berikut ini sebagian yang saya tulis ulang :
  1. Pada bulan Juli 2010, jumlah penduduk propinsi DKI Jakarta adalah sebanyak 8.525.109 jiwa. (Itupun dengan catatan, jika semua penduduk rata terkena sensus).
  2. Angka tertinggi jumlah penduduk diraih oleh wilayah Jakarta Timur yang mencapai kurang lebih 2.630.836 jiwa.
  3. Pertumbuhan kendaraan di Jakarta per tahun diperkirakan sebesar 11 persen. Dimana pertumbuhan panjang jalan per tahun diperkirakan hanya 1 persen saja.
  4. Tercatat setiap harinya ada sekitar 138 pengajuan pembuatan STNK baru di wilayah Jakarta.
  5. Setiap hari juga tercatat sekitar 890 sepeda motor baru terdaftar di wilayah Jakarta.
  6. Sampai dengan bulan Mei 2010, tercatat jumlah sepeda motor di wilayah Jakarta mencapai 8.087.118 unit.
  7. Pada jam - jam rawan macet (pagi dan sore hari) pergerakan kendaraan - kendaraan di jalan utama di Jakarta sekitar 12 km/jam.
  8. Kerugian yang diperoleh oleh masyarakat karena pemborosan nilai waktu di jalan dan pemborosan biaya operasi kendaraan bermotor (terutama bahan bakar) adalah (sekitar) lebih dari 17,2 trilyun rupiah per tahun.
Kesimpulan dari dua lembaga peneliti tersebut, jika tidak ada perbaikan pada sistem tata kota, kondisi Jakarta diperkirakan akan lumpuh total di tahun 2014.

Kalau untuk saya sendiri, fakta yang ditampilkan tersebut merupakan PR besar bagi pemerintah kota Jakarta, SEMUA penduduk Jakarta, serta SEMUA penduduk di wilayah lain yang beraktivitas di Jakarta.

Kalau untuk saya sendiri, satu titik putih tidak bisa mengubah warna lautan hitam. Begitupun sebaliknya, satu titik hitam, tidak memberi perubahan warna yang begitu berarti bagi lautan putih.

Kalau untuk saya sendiri, tidak perlu punya cita - cita jadi superhero seperti Bruce Wayne yang berhasil menyelamatkan kota tempat dia tinggal, tapi lakukan saja hal positif di lingkungan sekitar terlebih dahulu. Misalnya membuang sampah pada tempatnya, tidak meludah di sembarang tempat, atau bahkan tidak lupa mendoakan negara beserta penghuninya dalam tiap sholat. Sekecil apapun, meskipun belum bisa memberi perubahan besar dan berarti,  paling tidak itu membawa kebaikan di dalam diri sendiri.

Wednesday, October 24, 2012

So, Please Please Please..



So, please please please
Let me, let me, let me
Let me get what I want
This time...

Thursday, October 11, 2012

Cerita Sabtu

Rajamandala - Bandung, 6 Oktober 2012. 
(Dini, Bei, Teteh & suami).

Namanya nenek Leila. Usianya sudah delapan puluh empat tahun. Pencapaian yang luar biasa, karena di usia sebanyak itu, ia masih bisa berjalan gagah dengan dua kakinya (walaupun sesekali dengan bantuan tongkat), dengan jangkauan memori otak yang masih luas (meskipun ada pengulangan di beberapa hal kecil).

Saya, terutama, kagum sekali dengannya. Mengingatkan saya pada dua nenek saya yang sudah bahagia disisi Tuhan disana.

Nenek Leila orang sunda asli. Meskipun bahasa sehari - harinya adalah bahasa sunda, tapi ia mengerti bahasa Indonesia, dan bahkan bisa bahasa Jawa. Saya yang bersuku Jawa pun sampai malu dibuatnya karena tidak menguasai bahasa Jawa yang halus seperti yang ia ucapkan.

Nenek Leila pensiunan PNS. Sampai hari menjelang pensiunnya ia masih bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga (saat ini disebut Kemenpora). Itu mungkin yang menyebabkan fisik dan pikirannya masih bekerja baik di usia senja tersebut.

Nenek Leila banyak bercerita. Bahkan sepanjang saya disana, pembicaraan didominasi olehnya. Tapi saya tidak bosan akan ceritanya. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, menarik menurut saya.

Nenek Leila suka menonton. Dulu tontonannya telenovela. Tapi semenjak telenovela bergeser menjadi sinetron, itulah tontonan sehari - harinya sekarang ini. "Dude Herlino" katanya mengenai artis sinetron favoritnya. Dan setiap menonton, nenek selalu membawa papan kayu untuk ujian yang ada penjepitnya, diisi kertas dan bolpen, catatan jadwal tayang sinetron yang dimainkan Dude Herlino.

Selain sinteron, tayangan lain kesayangan nenek Leila adalah pertandingan bola. Yes, bola. Nenek mengidolakan tim Belanda. Tiap ada pertandingan bola, apalagi jika tim favoritnya bermain, sampai tengah malampun diikuti olehnya. Bahkan suka rebutan TV dengan cucunya yang hanya mau nonton bola jika Persib main. Bobotoh mania. Dan seperti juga sinetron, nenek punya catatan jadwal tayang pertandingan bola lengkap. Tak lupa komentar - komentar lengkap seputar pertandingan bola.

Seru, yah.

Tidak sampai disitu. Di tengah - tengah cerita nenek tiba - tiba menanyakan "Teh, kalau yang untuk research - research itu di Jakarta apa teh namanya, nenek lupa." kita semua berpikir keras. Apa yah, mungkin LIPI yang nenek maksud. Lalu kita menanyakan nenek mau meriset apa. Tapi lalu nenek tertawa malu - malu sambil bilang "Engga jadi ah, nenek takut." Lucu sekali.

Tapi waktu kita akan pulang, pertanyaan itu diulang lagi oleh nenek. Lalu kita insist menanyakan nenek mau meriset apa sebenarnya. Akhirnya mengakulah nenek "Nenek teh mau meriset mengenai pendengaran orang yang tidak pakai jilbab dengan orang yang pake jilbab." tapi lalu ia tertawa geli dan bilang "Ulah ah, nenek takut dosa". Karena nenek tidak memakai jilbab.

Lalu teteh bilang sambil menunjuk jilbab yang teteh pakai "Kalau ini mah tipis nek, tidak mengganggu pendengaran." lalu kata nenek "Bukan. Bukan jilbab kayak teteh, tapi jilbab yang dililit - lilit."

Ternyata maksud nenek hijabers. *hahahahahaha* Nenek tidak suka ternyata dengan jilbab dililit - lilit itu. Maksudnya menyindir secara halus.

Lalu nenek juga cerita soal masa - masa kerjanya. Dimana saat itu (paling tidak), PNS pusat yang ditempatkan di daerah sangat rawan suap. Nenek cerita sering di-"amplop"-i, dan tidak pernah diterima. Selalu dikembalikan ke staff-nya, entah dimakan sendiri oleh si staff atau benar - benar dikembalikan ke yang memberi, yah hanya Allah yang tahu.

Dulu, kata nenek, setiap punya uang, nenek selalu membelanjakan, tidak pernah disimpan - simpan. Dibelanjakan untuk orang satu rumah atau bahkan dibagi - bagikan untuk orang lain. Asalkan tidak disimpan sendiri. Dan cerita itu diakhiri dengan ucapan "Kalau dipikir - pikir, kenapa ya nenek teh dulu gak butuh uang? Aneh." sambil berpikir dan tersenyum.

Saya tahu jawabannya. Karena kayaknya, untuk nenek yang penting itu bahagia. Ada atau tidak ada uang, tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Pikiranlah yang mengatur kita mau bahagia atau tidak Maka itu, sampai saat inipun hidup nenek Leila kelihatan selaras seimbang dan tanpa beban. 

Saya ingin sepertinya di bagian hidup yang satu itu. :)



Sunday, August 5, 2012

Happy Thankful Day

Seharusnya tulisan ini di-post minggu lalu.

Seperti tahun - tahun sebelumnya, bahwa tanggal 28 Juli itu merupakan hari Dini sedunia. And just like so many years before, at that day, I was the happiest person on earth.

Ucapan ulang tahun pertama di hari itu datang dari si tamu tak diundang. Tamu bulanan. Yang persis menyadarkan saya di jam 00.02. Yang menggagalkan niat sahur saya tiga jam kemudian. Dan yang memaksa saya berurusan dengan ember dan deterjen di pagi buta.

Lalu paginya jam 07.00 ada (not-so) surprise candle wish dari Ribta dan Mita. Kenapa (not-so) surprise? Karena keduanya dateng dengan niat jahat mau menjebak saya dengan muka bantal belum bangun, tapi sayangnya, saat itu sayanya sendiri sudah duduk manis, nonton TV di ruang tengah. Kuenya, dua buah roti sebagai penopang lilin. Dan rotinya enak, Ta. Serius deh. Oia, tak lupa juga kado dong dari mereka berdua. A green multi-function box.



Dan ngobrolin soal kado, saya juga dapat early gift loh. Sampai dengan manis si rumah saya sehari sebelum ulang tahun, tanggal 27 Juli malam. Kalau saya menyebutnya, 'From Bandung with Love'. Jadi ada dua kado. Satu dari teh Ivy yang emang tinggal di Bandung. Kadonya celana jeans enak dan pas di badan yang warnanya belum pernah saya punya. (Oia, kalo mau pesen yang kayak gitu, teh Ivy jualan loh. Boleh sini pesen - pesen lewat saya.) Dan kado kedua dari Bei. Hehe. Dia pesan kado itu dari Bandung dan minta dikirim langsung ke alamat saya. Kadonya, converse pendek biru dongker. Tepat sesuai pesanan dan sesuai bayangan saya. Ah, wonderful pokoknya. Dan dua kado itu sampainya ke rumah saya pada waktu yang bersamaan, yang bikin bingung mas - mas ekspedisi yang anter. Padahal juga, gak janjian loh itu ngirimnya.

From Bandung with Love


Terus sorenya saya janjian sama Mulas, Oen, Bobby dan Bei ketemuan buat buka puasa. Lagi - lagi ada cupcake and candle.



Gak cuma itu, pulangnya juga ada kado dari mama, papa, adek, tapi minus nasi kuning, soalnya kesian sama mama yang lagi puasa sendirian.

Dan tanggal 28 Juli 2012 ditutup dengan ucapan selamat ulang tahun dari seseorang di masa lalu yang tiba - tiba muncul lagi. Hmm, malesin sih buat diinget - inget

Ulang tahun kali ini sebenarnya lebih sederhana dari ulang tahun - ulang tahun sebelumnya. Tapi tidak mengurangi makna yang memberi ucapan juga di hari itu. Mulai dari keluarga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman mantan kantor, teman main, saudara - saudara. Semuanya indah. Tapi jika dibandingkan tahun - tahun sebelumnya yang selalu ada surprise, di ulang tahun kali ini semua dilalui dengan cara yang sederhana.

Meskipun perayaannya berbeda, tapi perasaan yang saya rasakan di hari itu lebih bahagia dan lebih penuh syukur dibanding tahun - tahun sebelumnya. Dari pembukaan sampai penutup, seperti diberikan semacam warning of life dari Tuhan. Gak semua yang terjadi di hidup saya itu sesuai dengan bayangan dan keinginan saya, rasa sedih atau sakit pasti ada, tapi hari itu Tuhan seperti mau menunjukkan paket lengkap semua yang pernah ada dan punya cerita di hidup saya. Semacam peringatan bahwa, Tuhan gak cuma kasih saya kesedihan semata, tapi kebahagiaan yang diberi juga gak kalah banyak kok. Yang pada akhirnya semua itu menuntun saya untuk punya rasa syukur yang lebih besar dan semakin besar lagi dari tahun ke tahun.

Di ulang tahun ke dua puluh enam ini, semua wish sebelum tiupan lilin saya berbunyi sama. Pada intinya kalau boleh meminta lagi sama Tuhan, saya cuma minta diberi kesehatan, kebaikan hati yang bertambah besar dan yang paling penting, semoga cinta dari orang - orang di sekitar, bertambah besar untuk saya, just like the way I love them.